Tampilkan postingan dengan label Wonosobo. Tampilkan semua postingan

Aktivitas Meningkat, Status Gunung Sindoro Naik Jadi Waspada

22.04
Jakarta - Gunung Sindoro di Provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan aktivitas. Karena itu status gunung yang semula normal (level I) pun dinaikkan menjadi waspada (level II).

Menurut informasi dari vsi.esdm.go.id pada Selasa (6/12/2011), dari hasil dua kali pengamatan visual dan pengukuran suhu di kawah puncak, pada beberapa titik di sekitar kawah, yaitu tanggal 26 November 2011 dan 2 Desember 2011, menunjukkan adanya kepulan asap dari fumarol. Temperatur rata-ratanya 75 derajat Celcius pada 26 Oktober dan 95 derajat Celcius pada 2 November.

Lantas pada 2 November lalu, tinggi asap fumarol sudah melewati bibir kawah gunung, sekitar beberapa puluh meter, dengan tekanan asap lemah-sedang. Selain itu, kegempaan pun mulai terekam mulai Oktober hingga 4 Desember 2011.

Pada Oktober 2011 terekam 3 kali gempa vulkanik dalam (VA), 18 kali gempa tektonik jauh, dan 21 kali gempa tektonik lokal. Sedangkan pada November 2011, terekam 13 kali gempa vulkanik dalam (VA), 6 kali gempa vulkanik dangkal (VB), 26 kali gempa tektonik jauh, 5 kali gempa tektonik lokal, serta 22 kali gempa hembusan.

Sedangkan pada tanggal 1 hingga 4 Desember 2011, terekam 20 kali gempa vulkanik dangkal (VB), 2 kali gempa tektonik jauh, 3 kali gempa tektonik lokal, serta 6 kali gempa hembusan.

Peningkatan aktivitas Gunung Sindoro teramati dengan meningkatnya aktivitas kegempaan dan visual, terutama gempa vulkanik dalam dan vulkanik dangkal. Peningkatan aktivitas vulkanik berupa gempa vulkanik dalam dan vulkanik dangkal dikhawatirkan memicu peningkatan aktivitas vulkanik berupa letusan freatik atau letusan abu.

Pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) III (radius 2 km dari kawah) berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, gas beracun, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat. Lalu pada KRB II (radius 5 km dari kawah) berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat. Sedangkan pada KRB I sampai (radius 8 km dari kawah) berpotensi terlanda lahar dan perluasan aliran awan panas, dan berpotensi terlanda jatuhan batu pijar serta hujan abu.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMMBG) mengimbau masyarakat sekitar Gunung Sindoro tetap tenang, tidak terpancing isu-isu yang menyesatkan. Masyarakat pun tidak diperbolehkan mendaki dan mendekati kawah yang ada di puncak Gunung Sindoro dalam radius 2 km dari kawah puncak.

Selain itu, masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar Gunung Sindoro dalam KRB II untuk selalu waspada dan tetap memperhatikan perkembangan kegiatan gunung yang dikeluarkan oleh BPBD setempat.

Gunung Sindoro terletak di Kabupaten Temanggung dan Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, dengan ketinggian 3.151 meter di atas permukaan laut (dpl). Letusan abu gunung ini mulai tahun 1818. Aktivitas gunung ini kembali tenang selama lebih kurang 60 tahun dan letusan abu terjadi lagi pada tahun 1882. Kala itu letusan diikuti leleran lava di lereng barat laut.

Tahun 1903 terjadi lagi letusan abu (sampai Kejajar dan Garung) dan letusan abu tahun 1906 (abu sampai Kledung). Setelah aktivitas letusan jeda selama 63 tahun, Gunung Sindoro kembali aktif pada tahun 1970 yang ditandai dengan munculnya kepulan asap putih tipis hingga tebal. Tinggi kolom asap beberapa puluh meter dari bibir kawah, selama kurang dari satu hari disertai bunyi suara blazer.

(detiknews.com-vit/nwk)



Video aktivitas Gunung Sindoro


 
Read On

UMK Wonosobo Disepakati Rp 825.000

16.04

WONOSOBO - Dewan Pengupahan Wonosobo menyepakati usulan upah minimum kabupaten (UMK) untuk tahun 2012 sebesar Rp 825.000.

Usulan itu naik Rp 50.000 dari pada UMK 2011 yang sebesar Rp 775.000, dan mencapai 95% dari angka hasil survey kebutuhan hidup layak (KHL) sebesar Rp 868.026,47.

UMK Rp 825.000 itu disepakati dalam sidang pleno Dewan Pengupahan yang beranggotakan wakil pekerja dalam hal ini Aliansi Serikat Pekerja Wonosobo, wakil pengusaha yakni Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), dan wakil pemerintah yakni Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Rabu (28/9) malam lalu di RM Sari Rasa Jalan bhayangkara.

Ketua Aliansi Serikat Pekerja Wonosobo, Andrias Suroso menyampaikan catatan bahwa pihaknya berharap ada kegiatan antara pekerja dan pengusaha yang sifatnya kunjungan kerja sehingga komunikasi terjalin dengan lancar. Catatan lain, perusahaan harus memperhatikan pekerja yang memiliki masa kerja lama. Dengan kondisi itu buruh bisa merasa memiliki perusahaan dan bekerja dengan nyaman demi kemajuan bersama. Pihaknya berharap pada tahun 2015 mendatang UMK mencapai 100 persen dari KHL.

Kepala Disnakertrans Muawal Soleh yang juga Ketua Dewan Pengupahan Wonosobo mengatakan, dengan adanya kesepakatan antara wakil pekerja dan wakil pengusaha, berarti usulan UMK Wonosobo 2012 ditetapkan sebesar Rp 825.000.

Usulan tersebut akan dimintakan tandatangan bupati dan dikirim ke Gubernur Jateng. "Usulan UMK ke Gubernur paling lambat tanggal 30 September," jelasnya.

Dijelaskannya, jika ada perusahaan yang mengajukan penundaan UMK yang telah disepakati bisa memberitahukan ke Disnakertrans. Masa aktif penundaan UMK yaitu selama 30 hari sejak usulan disepakati.

(Sumber: Suara Merdeka)

Read On

Carica dan Purwaceng Akan Dipatenkan

15.59

WONOSOBO – DPRD Kabupaten Wonosobo memastikan akan menggelontorkan dana untuk mematenkan kekayaan khas daerah berupa jamu purwaceng dan buah carica. Alokasi pembiayaan hak paten untuk kedua produk ini disetujui pada APBD Perubahan tahun 2011 lalu sehingga pelaksanaan bisa segera dilakukan.

Ketua Komisi B DPRD Wonosobo yang membidangi perekonomian, Arwiyono saat ditemui memastikan carica dan purwaceng sudah menjadi prioritas untuk didaftarkan secara resmi sebagai kekayaan daerah.

“DPRD sudah menyutujui hak paten carica dan purwaceng,” katanya.

Dia menegaskan, pembiayaan untuk didasari pada kebutuhan pentingnya kepemilikan resmi potensi lokal. Pada anggaran tahun 2011 ini alokasi hak paten dicadangkan sebesar Rp 20 juta.

Dengan kondisi itu, Arwiyono menegaskan, sejumlah pengusaha carica maupun purwaceng tidak perlu khawatir dengan produk yang selama ini telah dikembangkan. Diakuinya, memang sudah banyak daerah yang mengincar potensi carica dan purwaceng sebagai komoditas bisnis karena peluangnya sangat besar.

Dia menambahkan, perlu ada upaya aktif dari pelaku usaha untuk terus melakukan inovasi produk agar tidak tertinggal dengan produsen dari luar daerah. Dia mencontohkan, saat ini semakin banyak minuman kemas carica yang beragam rasa tersebar di Jakarta maupun Bali namun tingkat kemenonjolan bahwa carica merupakan produk asal Wonosobo belum terlihat.

Menurutnya, selain itu juga asosiasi pengusaha perlu reaktif untuk melihat peluang pasar terutama kota-kota besar yang selama ini belum dimasuki. Mengenai ketersediaan bahan baku yang masih minim, dia akan berupaya menjalin komunikasi dengan sejumlah kelompok tani di Kawasan Dataran Tinggi Dieng agar ada semacam kluster pertanian carica.

Ketua Asosiasi Pengusaha Carica (APC) Wonosobo, Didik Hermawan menyambut baik jika ada upaya untuk mematenkan carica sebagai kekayaan daerah. Menurutnya, yang perlu diatasi permasalahan selanjutnya adalah ketersediaan bahan baku dan perlindungan produsen carica kecil dari gempuran modal.

Menurut Didik, sasaran pasar carica sebenarnya sudah sangat luas dan menyebar di beberapa kota. Namun, diakuinya pola pemasaran masih berjalan sendiri-sendiri sehingga dalam skala besar brand produknya masih kalah terkenal dibanding produk lain.

Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Wonosobo Andi Achmad, mengemukakan pihaknya akan mendukung dan mengupayakan proses hak paten segera dilakukan. Menurutnya dengan sudah adanya asosiasi jalur koordinasi dapat dilakukan mudah.

(Sumber: Suara Merdeka-Wonosobo/ Senin, 10 Oktober 2011)

Read On

Recent Posts

    Followers TUJUDUNIA